2010-06-16 08:28:50
Dago Bengkok Yang bikin Bongkok
Trip kali ini TCC Bandung, mengadakan Bike gathering yang menantang para anggota yang baru bergabung maupun yang lama, Route kali ini Dago Bengkok 2, diantara para pesepeda Bandung setiap route sudah memiliki nama Imajiner, bengkok adalah nama salah satu perkampungan didago area menuju arah Lembang, penamaannya pun sudah di beri nomer ada Bengkok nol, bengkok satu dan bengkok 2, sayapun tidak tahu sejak kapan jalur-jalur ini dinamai, tapi kesepakatan sudah terbentuk sesuai dengan nama nama tadi.
Jam 7 pagi pasukan TCC sudah siap di Head office Telkom, di jalan Japati, para peserta dari pendaftar di milis ada 44 peserta,”last minutes” ada keperluan yang mendesak, yang tidak bisa dihindari sehingga mohon maaf tidak bisa bergabung dan mengundurkan diri dari event kali ini..
Akan tetapi rupanya jumlah peserta tetap banyak, dari hasil perhitungan ada 25 peserta yang ikut pagi itu ditambah 2 orang , Om Bani dan Om Nuryahya nunggu di “pitstop satu” di terminal Dago, jadi total 27 Orang.
Kombinasi peserta sangat bervariasi , yang paling muda ananda Falhar anak Pak Fopo, dia masih kelas 5 SD, luar biasa biasanya peserta paling muda anak saya yang kelas 1 SMP, jadi jelas rekor termuda terpecahkan sudah, kali inipun terasa istimewa karena hadir pasangan pesepeda paling harmonis, pak harry Aviady dan Bu Dewi Najmi, ini pasangan legendaris yang selalu saya temukan dijagad persepedahan, mulai dari Jelajah sukabumi-pelabuhan ratu sampai Warban Cup , dimana di Warban Cup ibu Dewi menyabet Juara 3 untuk Women Class
Setelah pengantar dan baca do’a bersama kamipun bersiap, sebagai marshal utama di garda depan om Abey Yuswardi selaku penguasa lembang dan tangkubanparahu.
Di garis belakang sebagai team penyapu saya , Pak Eko, JP.,Kang Tisna dan Kang Nana.
Di garis tengah turun naik, para anggota senior turun naik menyemangati dan membantu bila ada masalah dengan sepeda anggota.
Japati sampai Terminal Dago, kelihatannya bukan hal besar bagi para Goweser TCC baik yang baru bergabungapalagi yang lama, Istirahatpun tidak terlalu lama karena semangat masih sangat tinggi dan takut badan keburu dingin, maka start lagi menuju Bengkok2 dimulai, suguhan pertama adalah turunan PLTA Bengkok, tetapi sesuai dengan hukum sepeda, kalau ada turunan pasti ada tanjakan, tanjakan pertama luarbiasa mengagetkan karena kemiringannya membuat pesepeda menempelkan jidat ke bar, punggung mulai membungkuk, terbongkok-bongkok, nafas mulai terbata-bata keluar, tidak jelas keluar mulut atau hidung yang jelas hah heh hoh……
Para peserta yang kaget dengan tanjakan yang tiba-tiba setelah turunan, lupa memindahkan gigi.
”Telat ngoper…. “katanya sambil langsung minggir dan melanjutkan dengan TTB(Tuntun Bike),tetapi “no problem” dengan TTB karena ini bukan lomba, tetapi ini adalah Trip dimana route harus diselesaikan dengan FUN, bukankan motto TCC ‘Fresh, Fit and Fun” bagaimana pesepeda mengalahkan tanjakan dengan tetap FUN.
Filosofi pesepeda yang kerap dibicarakan di TCC adalah “keep moving” jadi mau TTB mau gowes yang penting tetap bergerak mengalahkan tanjakan.
Tanjakan pertama, dilewati dengan dada berdegup kencang, untung ada bordes, tempat yang sedikit datar, untuk menikmati pemandangan Bandung yang nampak berkabut sambil menenangkan nafas padahal meredakan detak jantung yang berdebar kencang.
Lepas tanjakan pertama , tanjakan kedua mulai disuguhkan para pesepeda memandang sebagai tantangan baru, dilalap dengan segala cara mulai dari genjot tak sabaran samapi “slow but sure”, sang marshal Utama turun naik dengan sepedanya menyemangati anggota tengah sayangnya “Cuma nengokin doang” tidak bantu narik sepeda.
Demikian dengan tanjakan selanjutnya, disikat satu persatu, setiap bordes dinikmati sambil melihat view bandung yang berkabut abu-abu, wuih….. bandung memang cantik apalagi dipandang sambil menenangkan diri dari gelegak nafas sehabis tanjakan, sesi foto adalah sesi yang sangat ditunggu, karena kesempatan menarik nafasnya semakin banyak, yang jelas mulai tanjakan ke tiga dan selanjutnya, sumpah serapah ke Marshal utama mulai keluar
” sialan, si Abey, katanya tanjakan tinggal satu, ternyata ada terus….”
“Abey Penipuuuuuu……” hehehe sambil cengar-cengir diatas nafasnya.
Ada peserta yang paling luar biasa, Fahlar , tadinnya saya sangat mengkhawatirkan semangatnya dan takut dia putus asa menghadapi tanjakan-tanjakan yang tidak ada habis-habisnya , tetapi rupanya semangat untuk mengalahkan tanjakan sangat besar, setiap saya tanya:
“Kaka masih kuat?”
“Masih… “ katannya penuh dengan keyakinan, padahal bolak balik minta minum ke ayahnya, sementara sang ayah bolak balik, begitu selesai satu tanjakan, taro sepeda, turun tanpa sepeda, kemudian membantu anandanya, penunjukan cinta seorang ayah yang luar biasa.
Team penyapu kebagian mendorong semangat dan mendorong sadel, pada saat TTB dilakukan, untuk semangat itu “Fahlar akan medapat special Gift atas semangat dan perjuangannya” nanti akan kami titipkan lewat ayahnya,
Route terakhir dari Jalan Maribaya ke Tempat Finish dirumah Om abey, tidak ada apa-apanya dibanding dengan tanjakan-tanjakan yang sudah terlewati, sayangnya peserta tidak ada yang bawa GPS, sehingga saya tidak tahu berapa Dpl saat itu, yang jelas yang ribut adalah Bro Yuswardi, ribut waktu istirahat di warung “ Wah ternyata kita sama tingginya dengan tangkuban parahu ya !” dia kaget ternyata tanjakan posisinya diatas kota Lembang dan sejajar dengan ketinggian Gunung Tangkubanparahu.. Hahaha tertipu dia, merasa tertipu boleh-boleh saja, tapi jangan kapok ya….
Sesampainya di Rumah Om Abey disambut dengan Tante Santi dengan senyumnya yang sumringah sambil membawa panci besar, para peserta langsung merubung “ susu Murni panas !!”
Wah, setelah badan lelah, nafas hah heh hoh, menyeruput susu murni coklat panas , sluurp….wah, rasanya dada ini hangat merona, keringat penutup meleleh menyegarkan.
Para peserta rata-rata tidak cukup satu gelas, diimbuhi cerita ( taufikh )