2010-03-04 07:03:22
MENGGAPAI ‘BUKIT BOROBUDUR’ DI PERKEBUNAN TEH JAMUS
Halimun tipis masih menyelimuti dusun Jamus ketika kami berempat menginjakan kaki di dusun terakhir sebelum memasuki gardu portal perkebun teh yang dibangun pertama kali oleh Van De Rappart (1826-1910) warga negara Belanda di masa kolonial. Setelah membayar retribusi Rp. 2.000/orang nampaklah dari kejauhan hamparan kebun teh seluas 418 Ha bak permadani di kaki langit.
**
Tujuan kami kali ini adalah menyusuri perbukitan yang merupakan ciri khas perkebunan teh dengan sasaran akhir puncak bukit yang dikenal dengan nama ‘Bukit Borobudur’ karena bentuk bukit teh nya yang menyerupai candi terbesar di Indonesia -peninggal dinasti Syailendra.
**
Kami beruntung, kebun teh jamus memiliki jalan makadam berupa batu-batuan yang disusun rapi yang dkhususkan untuk jalur truck pengangkut hasil panen teh, sehingga kami tinggal menyusuri saja kemana arah trek yang tiada ujung itu. “ bu, menawi nganan arah teng pundi ?, nenawi ngiri teng pundi?, itulah pertanyaan yang acap kali sering kami ajukan ke ibu-ibu paruh baya buruh pemetik pucuk dauh teh atau siapapun yang kami temui. Maklum, kami memang tidak tahu posisi saat itu ada dimana, karena yang ada disekeliling kami adalah hamparan bukit-bukit teh.
**
Bersepeda dikawasan kebun teh yang bersuhu antara 18-22 derajat celcius yang masuk wilayah kabupaten Ngawi, menjadi sebuah keniscayaan ketika paru-paru kita sehari-harinya disesaki dengan udara yang dipenuhi dengan polutan. Sengaja kami mengkayuh sepeda secara santai, disamping trek yang kami lalui memang berupa tanjakan, kami ingin berlama-lama disitu agar seluruh pori-pori yang ada dalam tubuh kami merasakan segarnya udara pagi lereng utara Gn Lawu. Sesekali masih kami temui ayam hutan yang langsung lari tungganglanggang memasuki semak-semak begitu berjumpa dengan rombongan kami. Tapi kokok suaranya nya lamat-lamat masih terdengar seiring dengan deru angin gunung yang kencang menerpa wajah.
**
Tak terasa jarum jam telah menunjukkan angka 10.30 WIB, berarti kami sudah 3 jam lebih mengelilingi punggung bukit teh Jamus dengan bukit Borobudurnya, matahari sudah didepan ubun-ubun. ‘Kita kekiri atau lurus ? tanya Sulis-biker madiun- ‘kita cari warung terdekat saja, celetuk yang lain. Maklum sejuknya udara dan endurance yang terkuras akibat trek yang terus menanjak, membuat perut kami semakin meronta-ronta minta diisi. Di pertingaan kami mengambil jalan lurus yang merupakan jalan terdekat menuju warung-warung yang berada disekitar komplek pabrik teh Jamus.
**
Segelas teh hijau hangat produksi Jamus, serta semangkok indomie rebus sajian warung Bahagia -yang ada di sudut pabrik- langsung ludes, seakan menjadi energizer bagi kami berempat untuk menuntaskan touring kali ini. Sebab untuk mencapai finish kami masih harus menaklukan terlebih dulu tanjakan yang cukup panjang.
**
Sebelum meninggalkan Jamus, kami membersihan diri dengan mandi di kolam yang airnya dingin sejuk menyegarkan dari mata air Sumber Lanang yang melimpah ruah yg konon berkhasiat.. Ketika mobil yang membawa kami telah meninggalkan Jamus, sejauh mata memandang bukit Borobudur masih nampak jelas menjulang menatap langit Girikerto. Jamus, semoga kau tetap lestari.
Wassalam,.
( mossosilver )